[#58 Book Review] A Untuk Amanda

auaJudul : A Untuk Amanda

Penulis : Annisa Ihsani

Penyunting : Yuniar Budiarti

Proofreader : M. Aditiyo Haryadi

ISBN : 9786020326313

TahunTerbit : Maret 2016

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Halaman : 264


Sinopsis :
Amanda punya satu masalah kecil: dia yakin bahwa dia tidak sepandai kesan yang ditampilkannya. Rapor yang semua berisi nilai A, dia yakini karena keberuntungan berpihak padanya. Tampaknya para guru hanya menanyakan pertanyaan yang kebetulan dia tahu jawabannya.

Namun tentunya, tidak mungkin ada orang yang bisa beruntung setiap saat, kan?

Setelah dipikir-pikir, sepertinya itu bukan masalah kecil. Apalagi mengingat hidupnya diisi dengan serangkaian perjanjian psikoterapi. Ketika pulang dengan resep antidepresan, Amanda tahu masalahnya lebih pelik daripada yang siap diakuinya.

Di tengah kerumitan dengan pacar, keluarga, dan sekolahnya, Amanda harus menerima bahwa dia tidak bisa mendapatkan nilai A untuk segalanya.


Review :

Kau tahu itu benar. Hati-hati Amanda, sebentar lagi semua orang akan tahu kau sebenarnya tidak pintar. (hal. 98)

Buku karya kak Annisa Ihsani pertama yang kubaca dan aku setuju dengan review yang beredar di goodreads kalau tulisan Kak Annisa itu cerdas.

A Untuk Amanda ini menceritakan bagaimana Amanda yang selalu mendapatkan nilai sempurna merasa kalau dirinya menipu orang disekitarnya. Ia pun meminta tolong ibunya untuk mencarikan seseorang yang bisa membantunya keluar dari permasalahannya. Dan dimulailah perjuangan Amanda dalam menghadapi kenyataan kalau dia depresi.

Bersosialisai sangatlah sulit ketika kau merasa begitu tertekan. Berbicara terasa hampir mustahil. Aku harus mengerahkan segenap tenaga, secara harfiah, untuk membuka mulut dan merangkai kata menjadi kalimat yang masuk akal. (hal. 139)

Wah, aku benar-benar mengalami hangover setelah menutup buku ini. Aku harus bersyukur kalau aku enggak ikutan jadi depresi membaca buku ini. A Untuk Amanda memakai sudut pandang orang pertama, jadi kita akan diajak penulis untuk menyelami kehidupan Amanda si gadis sempurna yang merasa dirinya pembohong besar. Sudah tentu kita akan mendengar pemikiran-pemikiran sarkastis dari Amanda. Selain itu juga bagaimana perasaan dia yang sebenarnya hingga dia bisa menderita depresi.

Aku merasa bersimpati padamu, Amanda. Walau aku bukan si cewek sempurna dan, mengutip apa kata Tommy, kecanduan prestasi tapi aku sempat mengalami apa yang dirasakan oleh Amanda terkait produk gagal. Aku harus bersyukur karena aku masih bisa tetep waras di tengah segala pikiran-pikiran buruk akan itu.

Ini buku kesekian tentang mental illness yang kubaca dan mengangkat penyakit mental yang baru aku dengar, impostor syndrome. Selain itu buku ini juga lebih mengangkat bagaimana sikap Amanda setelah dia mengetahui kalau dia mengidap penyakit mental. Aku salut sama dia, dia berani mengambil keputusan untuk berkonsultasi dengan ahlinya. Banyak, kan, yang malah takut dan akibatnya menjadi sangat fatal?

Buat kalian yang ragu baca buku ini, enggak perlu takut kalau buku ini terlalu berat buat kalian, karena walaupun tema yang diangkat sedikit berat tapi gaya bercerita penulis yang mengalir bisa membuatmu paham akan ceritanya. Buku ini paket komplit karena ada cerita mengenai keluarga, cinta dan persahabatan. Yang paling aku suka karakter ibunya Amanda, beliau sangat bijaksana dan respon beliau terhadap permintaan Amanda benar-benar membuatku terharu.

Kalau rasa bersalah bisa membunuh, aku pasti sudah mati di tempat. (hal. 66)

Karena aku mengalami hangover setelah selesai baca dan juga karena minatku pada psikologi, buku ini tentu akan mendapatkan respon bagus dariku. Buku ini lebih dari yang kuharapkan, mental illnessnya enggak cuma sebagai pendukung cerita tapi menjadi inti ceritanya. Dan banyak sekali istilah-istilah yang baru aku tahu. Sejujurnya, aku merasa tidak masalah dengan agnostik, tapi di beberapa bagian aku seperti kesentil dikit, hehe.

Ah, aku menemukan beberapa typo nih di buku ini, kalau enggak salah ingat sih ada tiga yang kusadari. Tapi hanya satu yang berhasil kutandai, ada di halaman 104, ‘Dia pikir itu alasanku itu pernah mengangkat tangan lagi di kelas?’ Aneh, kan? Aku sampai harus mengulang dua kali untuk bisa tahu apa yang salah, hehe.

Jadi katakan padaku, Tommy, KENAPA SAAT TANGANKU SAKIT, KAU MEMPERLAKUKAN GIPSKU SEOLAH ITU BENDA PALING KEREN SEDUNIA, TAPI SAAT OTAKKU SAKIT KAU KABUR DARIKU? KENAPA WAKTU ITU KAU MENEMANIKU TAPI SAAT AKU TERTEKAN KAU BAHKAN TIDAK MAU MENDENGARKANKU? PERSETAN DENGANMU, TOMMY. AKU BENCI. (hal. 208)

auarate

Iklan

Your Opini?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s