Pink's Review

~ a book blog by ima ~

[#18 Book Review] The Chronicles of Audy: 4/4

1 Komentar

4per4Judul: The Chronicles of Audy: 4/4

Penulis: Orizuka

Penyunting: Yuli Yono

Proofreader: KP Januwarsi

ISBN: 9786027742536

Tahun Terbit: Juni 2015

Penerbit: HARU

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Sinopsis:
Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.

Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa dia malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya, tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini, seperti biasa, muncul masalah lainnya.

Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan.
Aku tidak ingin mereka tercerai-berai, tapi aku bisa apa?

Ini, adalah kronik dari kehidupanku yang masih saja ribet.
Kronik dari seorang Audy.

*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Review:

Masih tetap menceritakan kronik kehidupan dari seorang Audy Nagisa.

Pengaruh Pernyataan Cinta Remaja 17 Tahun terhadap Seorang Audy Nagisa.

Setelah R3 menyatakan perasaannya di buku kedua, di buku ketiga inilah ditunjukkan bagaimana reaksi seorang Audy Nagisa yang menurut Missy norak.

Selain membahas bagaimana perkembangan hubungan Audy dan Rex (dan juga membahas perkembangan skripsi, sih), di buku ketiga ini juga masalah-masalah yang muncul benar-benar rumit. Bahkan Audy pun bingung harus berbuat apa.

Regan yang akan menikahi tunangannya yang sudah tersadar dari koma, Maura, harus bekerja lebih keras lagi demi mengumpulkan dana yang tidak sedikit.

Romeo, yang walaupun kata Rex hidup di zona nyaman, masih memiliki trauma yang lain, selain hanya ‘sekadar’ trauma sampo.

Rex yang sudah selesai dengan ujiannya, harus mempersiapkan rencana masa depannya, yang tanpa Audy termasuk ke dalamnya.

Rafael, yang terlalu genius untuk anak seumurannya, harus rela berbangga diri karena tak lagi bisa ‘membuat-Audy-mengantarnya-ke-sekolah’.

Semuanya punya masalah masing-masing, tak terkecuali Audy–dengan masalah skripsinya, tentu saja.

Lalu, apakah Audy bisa membuat keluarga 4R tidak tercerai-berai karena masalahnya masing-masing? Dan, pertanyaan yang paling sulit dijawab, apakah skripsi Audy sudah selesai?

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

Ya, setelah menunggu selama satu tahun (aku sih nunggunya ‘hanya’ enam bulan saja dari membaca Audy: 21) akhirnya yang sudah ditunggu-tunggu terbit juga. Alhamdulillah!

Kronik kehidupan Audy masih seputaran 4R dan skripsi. Yah, untunglah di buku ketiga ini skripsi Audy ada kemajuan, haha. Dan, juga perkembangan hubungannya dengan R3, tentunya. Omong-omong, mereka berhasil ngedate lho. Tapi jangan bayangkan kencan romantis, ya. Karena kalian tahu kan kalau tiap kali Audy menginginkan sesuatu pasti ada saja halangannya, haha.

Tulang selangka + aroma peppermint + tatapan tajam = PERPADUAN MEMATIKAN. (hal. 170)

Udahlah ya, adegan favoritku pasti melibatkan Audy-Rex, tapi mari kita bahas satu-persatu.

R1 akan menikah. Dan tentunya ia harus mengumpulkan uang yang tidak sedikit. Entah apa jalan keluar yang akan diambilnya, tapi mengutip apa kata Audy, sudah pasti :

Maura pasti sudah bahagia hanya dengan bisa tersadar dari koma dan menikah dengan Regan. (hal. 101)

Lalu ada Romeo, yang ternyata dibalik sikapnya yang cuek itu dia menyimpan banyak sekali rahasia, bahkan keluarganya sendiri pun tak tahu. Ia yang dilihat Audy sebagai sosok yang ceria dan enggak mau peduli, dibaliknya ada masalah yang tidak ia bagi dengan saudaranya.

“Mungkin Mas nggak mikir ke sana, karena Mas merasa terlalu nyaman di sini.” (hal. 251)

“Selamanya Mas nggak akan berkembang kalau terus-terusan hidup di zona nyaman.” (hal. 252)

Kalian bisa nebak nggak siapa yang ngomong dua kalimat di atas? Ya, itu si Rex. Duh, dia kenapa sih? Di buku ketiga ini tuh si Rex tingkat kelabilannya benar-benar bikin orang pengin nabok. Kadang romantis (walau dengan mimik muka datar), kadang malah bikin orang teriak frustasi. Deuh, Rex sumpah lo labil banget! Tapi, tetep ya pesonanya enggak bisa ditolak.

Dan, hei, gue tahu lo genius, tapi harus ya kuliah di MIT? (eung, pertanyaan bodoh sih, seperti yang Rex bilang, masuk ke sana adalah kesempatan bagus, kenapa malah ditolak? Tapi, kan tetep aja) Oh, dan dengan bilang kalau Audy enggak ada di rencana masa depan lo, bikin hati kretek-kretek tau!

Sumpah, aku yang baca aja pengin ngeberi satu-dua jotosan ke muka Rex, apalagi Audynya.

Huh, tarik napas-buang-tarik napas-buang. Kalau ngomongin Rex pasti engga ada habisnya ini mah, maka kita lanjutkan ke si bungsu yang imut tapi nyebelin, haha.

Udah tahu dong, level kegeniusan Rafael? Yap, anak belum umur lima tahun tapi udah bisa main rubik dan baca majalah Playboy edisi luar negeri dan jangan lupakan majalah National Geographic.

Maka, sekolah memutuskan untuk memberikan Rafael kesempatan untuk bersekolah di sekolah yang dapat mengakomodir kebutuhan Rafa. Jadi, kalian tebak saja bagaimana endingnya.

Walaupun, tadi aku bilang adegan favoritku yang melibatkan Audy dan Rex, tapi setelah dipikir ulang, ternyata tidak juga. Apalagi kalau labilnya si Rex lagi kumat, yang ada makan ati mulu dengerin baca omongan dia.

Ah, tapi setidaknya ada beberapa momen favorit sih. Sewaktu kencan ala Cinta dan Rangga, kencan ala anak SMA dan pesta ronde. Egh, Romeo, engkau romantis dengan caramu. Hampir aku kepincut, tapi sayang sepertinya aku sudah cinta mati sama Rex! Walaupun kebanyakan bikin kesel, sekali lagi kubilang, pesona Rex tuh sulit untuk ditolak!

Eh tapi aku bersimpati sih sama Rex. Dia sadar kalau dirinya genius, dan itu ngebuatnya beda dari teman seusianya. Terlebih ia ngerasa kalau pelajaran formal yang ia dapat di sekolah, sudah berhasil ia kuasai. Bahkan, kayaknya dia lebih ‘pintar’ dari gurunya. Itu sulit, untuk mencoba biasa saja. Aku tahu kok, rasanya, walaupun akunya enggak genius sih -__-

Cukup ngebahas masalah peliknya, sekarang kekonyolan Audy yang sudah sangat norak. Entahlah, katanya sih dia pernah pacaran, tapi kok tingkahnya norak sekali ya? Dan pasti dia akan menyalahkan kupu-kupu di perutnya. Tapi, kalau aku jadi Audy sih, mungkin bakal klepek-klepek kalau Rexnya ngomong:

“Tapi kamu satu-satunya orang yang pengin aku ajarin soal logaritma itu.” (hal. 157)

Tuh, siapa yang enggak akan meleleh kalau ada cowok yang ngomong kayak gitu? Terkadang Rex itu memang sialan, ya, huh!

Ah, kalian penasaran enggak kenapa judulnya 4/4? Kalau penasaran, lebih baik cari tahu sendiri, karena artinya dalem banget. Suwer!

Maaf, ya Kak Orizuka, cuman aku beri 4 bintang, habis rasanya cepet banget baca kisah 4R1A ini, huhu. Kurang banyak, hahaha. Ditunggu sangat buku keempatnya 🙂

4per4rateDiikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2015.
Diikutkan dalam Young Adult Reading Challenge 2015.
Diikutkan dalam Tantangan Membaca Haru 2015.
Iklan

Penulis: andinarima

Penyuka Pink. Penyuka Buku. _Pink's Review_ http://myminilibrary.wordpress.com

One thought on “[#18 Book Review] The Chronicles of Audy: 4/4

  1. Ping-balik: [Wrap-up Post] Indonesian Romance Reading Challenge 2015 | Pink's Review

Your Opini?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s