Pink's Review

~ a book blog by ima ~

[#9 Book Review] Zero Class #1

3 Komentar

zc1Judul: Zero Class

Penulis: Pricillia A. W.

ISBN: 9789792289640

Tahun Terbit: Februari 2013 (Cetakan kedua)

Bahasa: Indonesia

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Teenlit)

Halaman: 272

=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Sinopsis:
Nagita Valda murid baru di SMA Nusa Jaya. Dia tidak sadar dirinya berada di tengah pertempuran sengit.
Medannya, kelas 11 IPS 4.
Musuhnya? Tidak terdeteksi.
Asal-muasal penyebab perselisihan belum tersibak kebenarannya oleh Gita.

Banyak rumor mengudara, sesungguhnya pertempuran sengit itu hanya kamuflase. Jika ditelaah lebih detail, segala gejolak dan baku-hantam yang terjadi di kelas itu bersumber dari masalah sepele yang sentimental antara Nathaniel Rahardja, anak pemilik yayasan sekolah, dan Raditya Widiantoro, teman sebangku Gita di kelas.

Gita tak bisa duduk manis menerima situasi itu! Berbekal tekad kuat dan strategi jitu, ia melancarkan serangan balik. Tujuannya jelas, ingin menghancurleburkan segala macam tindakan diskriminasi kolot yang membelenggu 11 IPS 4.

Perlahan… Gita malah masuk terlalu dalam ke setiap jengkal pertikaian. Sampai ia tak lagi mengenali Nathan., yang sebelumnya ia kenal sebagai sosok hangat dan menyenangkan.

Akankah pertempuran di medan sulit ini membuat Gita menyadari siapa kawan dan lawan? Dan berdiri membela pihak yang benar?

*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*^*

Review:

Nagita Valda, siswi pindahan dari Bandung ini ‘terpaksa’ memasuki kelas XI IPS 4 di SMA Nusa Jaya. Dan dengan terpaksa pula ia harus duduk sebangku dengan Raditya Widiantoro.

“Kita sebagai anak kenapa selalu harus ngikutin kehendak mereka yang kadang hanya satu arah ya?” (hal. 47)

Dari awal memasuki kelas itu, Gita merasa ada sesuatu yang aneh dengan XI IPS 4, semacam diskriminasi. Yang bahkan seorang guru dengan terang-terangan menunjukkan sikapnya itu. Info yang didapatnya dari the gosippers mengatakan bahwa diskriminasi itu bisa terjadi dikarenakan putra pemilik yayasan yang memintanya, Nathaniel Rahardja. Tentu saja, Gita tak sepenuhnya percaya, karena Nathan itu adalah sahabat kecilnya.

“Dia dalang utama di balik semua ini.” (hal. 52)

“Biasanya feeling cewek kan kuat kalau menyangkut orang yang dia sayang.” (hal. 92)

Tetapi lama-kelamaan Gita sadar kalau apa yang dikatakan rumor tersebut benar adanya. Nathan dan Radit memiliki kesalahpahaman yang berdampak pada lahirnya kelas XI IPS 4.

“Lo harus tahu, kehormatan banget bisa gabung bareng kami di 11 IPS 4. Kelas yang beda dari kelas-kelas lainnya.” (hal. 21)

Tapi, Gita merasa, awal masalahnya sangatlah konyol. Memperebutkan seorang perempuan? Yang benar saja. Nathan bukan tipe yang seperti itu, menurut Gita. Walaupun pada akhirnya orasi yang Gita lancarkan berhasil, akankah masalahnya selesai begitu saja? Apa Nathan dan Radit akan menjelaskan kesalahpahaman tersebut?

^*^*^*^*^*^*^*^*^*^

Ya ampun, akhirnya selesai juga baca ini.

Komentar singkatku untuk novel ini: “GILA!! DISKRIMINASINYA PARAH AMAT. DAN, YA AMPUN RADIT KEREN GILAAA!!” Yah semacam itulah. Dan dari kalimat pendek itu saja kalian pasti tahu aku tergila-gila pada siapa.

Oke, sekarang komentar panjangku.

Waktu pertama kali membaca sinopsisnya aku enggak ngeh kalau kelas yang dimaksud tuh kelas XI IPS 4. Namun, di kovernya ada tulisannya. Dan, kamu perlu tahu, aku juga kelas XI IIS 4 saat menulis review ini!

Yah, untung saja kelasku bukan kelas buangan. Enak saja! Dan lagipula di Jakarta kayaknya diskriminasi terang-terangan tidak begitu terlihat.

Kelas XI IPS 4. Kelas buangan. Kelas sampah. Penghuninya tidak bisa apa-apa. Biang onar semua. Begitulah kesan terhadap kelas XI IPS 4 ini. Dan Gita, yang walaupun berstatus ‘murid baru’, telah memulai perjuangannya untuk menghapuskan semua diskriminasi yang membelenggu XI IPS 4.

Aku suka Gita deh. Karakternya nampoool banget. Em, maksudnya tuh dia gigih banget gitu. Toh, anak sekelasnya juga ga peduli-peduli amat awalnya, jadi ngapain repot-repot. Tapi Gita ini beda. Dia sangat tidak menyukai diskriminasi itu. Makanya, ketika bulan bahasa, ia mendaftarkan kelasnya. Tentu saja, awalnya ia dicemooh bahkan sama teman sekelasnya sendiri. Tetapi akhirnya perjuangan Gita berhasil.

Terus yah, si Nathan ini. Aku suka dia, tapi karakternya terkesan jahat, deh. Masa cuman masalah cewek dan mentang-mentang anak pemilik yayasan dia bisa seenak jidat gitu? Ya kali! Tapi, tetep yah dia keren. Tak kuasa untuk menolak pesonanya.

Dan Radit. Aduh, ni cowok emang manis banget deh. Walaupun kadang hidup di dunianya sendiri, tapi diam-diam dia perhatian. Perhatian kecil itu manis banget. Aku kalau jadi Gita juga bakal klepek-klepek deh.

Cowok itu menenangkannya tanpa bahasa verbal sedikit pun. (hal. 198)

“Hebat, lo selalu melakukan hal yang berarti dan berkesan tanpa gue minta… tiap hari ada aja surprise buat gue.” (hal. 206)

Tapi nih, ya. Novel ini diceritakan melalui sudut pandang orang ketiga, tapi pembaca juga dikasih petunjuk samar banget. Aku jadi merasa kayak Gita juga. Diombang-ambing oleh kejadian masa lalu. Soalnya engga dijelasin apa awal penyebab munculnya kelas XI IPS 4. Yah memang hanya karena cewek sih, tapi masih sedikit banget infonya. Gantung deh pokoknya! Makanya kudu wajib banget beli Zero Class #2: Revelation.

Ketypoan yang tertangkap mataku :

Halaman 62, paragraf 4, ujar Disty sebelum beanjak pergi. Beranjak, bukan sih? Atau memang beanjak?

zrrateKarena akhir yang gantung begitu, aku kasih empat bintang ya 🙂

Diikutkan dalam Indonesian Romance Reading Challenge 2015
Diikutkan dalam Young Adult Reading Challenge 2015
Iklan

Penulis: andinarima

Penyuka Pink. Penyuka Buku. _Pink's Review_ http://myminilibrary.wordpress.com

3 thoughts on “[#9 Book Review] Zero Class #1

  1. Ping-balik: [Wrap-up Post] Indonesian Romance Reading Challenge 2015 | Pink's Review

  2. Ping-balik: [Wrap-up Post] Young Adult Reading Challenge 2015 | Pink's Review

  3. ka mau tanya, nathaniel nya anak kelas XI IPS 4 juga ga?

    Suka

Your Opini?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s